Sudah
bukan rahasia umum lagi jika Pulau Bali memang surganya wisata dunia. Para
wisatawan banyak memilih Bali sebagai tempat tujuan wisata karena Bali
menawarkan keindahan alam yang memukau. Untuk itulah kini banyak bermunculan properti Bali baru dari para penanam modal.
Para investor semakin lama semakin
tertarik untuk mengembangkan usahanya di Bali. Mulai dari pembukaan hotel,
rumah makan, dan masih banyak fasilitas-fasilitas pariwisata yang lainnya.
Namun secara tidak sadar, properti-properti baru tersebut telah menggeser
properti asli Bali. Padahal dari segi kualitas, properti Bali yang asli lebih
bagus daripada properti-properti para investor. Ini dikarenakan memang ciri khas
dari ukiran asli Bali yang tidak bisa dilepaskan dari identitas Pulau Bali itu
sendiri.
Menanggapi hal ini, Ketua IAI Jakarta,
Her Pratama menegaskan bahwa para investor asing harus banyak-banyak menggali harga
properti Bali yang asli. Ini harus dilakukan demi keberlanjutan dari kerjasama
investor asing dengan pemerintah atau rakyat setempat.
Apalagi setiap properti Bali asli
yang dibuat oleh masyarakat asli Bali memiliki nilai dan kaidah tersendiri.
Mereka bukan arsitek awam yang tidak mengerti akan perkembangan jaman, tetapi
mereka tetap ingin menjaga tradisi leluhur. Jika perkembangan info properti Bali
dari para arsitek lebih banyak dikenal para generasi muda, maka sudah pasti tradisi
asli dari arsitektur Bali akan punah dengan seketika.
Dari segi harga memang properti Bali
asli lebih mahal bagi para investor, namun kebermanfaatan dan keseimbangan
kerjasama antar keduanya itu jauh lebih mahal. Karena para investor menggunakan
budaya setempat untuk pemasaran propertinya, jadi secara tidak langsung mereka
juga harus ikut melestarikan budaya asli Bali. Mendongkrak nama Bali menjadi
siasat utama dalam bisnis mereka.
Properti-properti
yang ada di Bali selalu bersentuhan dengan nuansa orang Bali dan budaya Bali
yang kental. Jadi saling memperbanyak info properti Bali asli membuat para investor
tetap lancar dalam menjalankan usahanya karena mendapat dukungan dari warga Bali
secara penuh. Mereka merasa dihormati dan dihargai, bukan dijajah.

