salam properti Bali, dulu sewaktu saya masih SMA
orang tua saya selalu menganggap rumah yang kita tempati itu adalah aset.
Demikan juga saya, saya juga menganggap rumah yang kami tempati itu adalah
aset. Betapa tidak, pada masa itu sekitar tahun 2000 saya menganggap rumah yang
kami tempati adalah aset, bagaimana tidak... saat itu harga properti terus
mengalami kenaikan dan kenaikannya sangat menggiurkan.
Itu dulu... sampai akhirnya saya membaca buku Rich Dad Poor Dad Karangan Robert Kiyosaki, buku ini menyelamatkan
pola berpikir dan sudut pandang saya dalam menilai sesuatu (terutama properti).
Hati saya terkaget-kaget begitu Robert Kiyosaki memaparkan bahwa rumah yang
kita tempati itu sebenernya adalah bukan aset, ... melainkan biaya. Nah lho,
kenapa bukan aset?.
Bagi yang sudah mempelajari akuntansi mungkin
tidak akan mengalami kesulitan dalam membedakan
mana aset dan mana kewajiban di laporan keuangan Neraca namun bagi orang
awam tentu akan mengalami kendala dalam mendefinisikannya. Robert kiyosaki menyederhanakan
pengertian aset dan kewajiban menjadi sebagai berikut :
Aset adalah segala sesuatu yang menghasilkan uang ke kantong Anda. Dan kewajiban adalah segala sesuatu yang mengeluarkan uang dari kantong anda.
Dari pengertian sederhana itu anda dan saya sudah
bisa menilai rumah yang anda tempati saat ini termasuk aset atau kewajiban? Apakah
Dia (properti rumah) mengeluarkan uang dari kantong anda atau malah
mengeluarkan uang dari kantong anda?
Mudah saja menilainya bukan? Misalnya bila setiap
bulan rumah yang anda tempati tidak menghasilkan uang dan anda hanya
menggunakannya sebagai tempat istirahat saja sedangkan biaya bulanan seperti
listrik, air dan perawatan lain tetap keluar itu berarti rumah anda BUKAN ASET itu berarti rumah yang anda
tempati sekarang adalah KEWAJIBAN, karena
kenapa? Iya benar.. karena dia
mengeluarkan uang dari kantong Anda.
baca juga : informasi properti Bali dan harga
Nah, sudah mulai pusing kah? Kalau anda sudah
mulai pusing berarti anda sudah mulai menyadarinya dan tidak usah terlalu membanggakan
rumah anda sebagai aset.
Bisa saja anda menganggap kalau anda menyewa
rumah anda sendiri dimana anda menghitung sewa nya setiap bulan, namun bila
biaya sewa yang anda bebankan kepada diri anda sendiri itu yang merupakan
pendapatan bagi rumah anda setelah dikurangi biaya-biaya perawatan, renovasi,
listrik dan air hasilnya negatif maka rumah anda masih tergolong KEWAJIBAN. Namun yang saya maksud bukan hal seperti contoh ini, maksud tulisan ini adalah melihat rumah tinggal anda secara terpisah, apakah dia memasukkan uang ke kantong anda atau justru mengeluarkan uang dari kantong anda.
Kalau sudah terlanjur begitu lalu bagaimana dong
caranya supaya rumah tinggal saya menjadi aset?
Ini yang saya ingin bagi ke Anda berdasarkan
pengalaman pribadi saya, cara membuat rumah anda menjadi mesin uang sebenarnya sangat mudah namun
perlu ketekunan dan pengorbanan untuk mewujudkanya.
Salah satu caranya adalah selain ditempati anda
bisa menjadikan rumah anda sebagai tempat jualan atau tempat usaha. Di era
digital ini Ada banyak sekali usaha atau bisnis yang bisa anda jalankan dari
rumah seperti membuat masakan kemudian menjualnya di GO-FOOD atau menjadikan
rumah anda gudang untuk jualan online.
Cara lain bisa menjadikan garase atau halaman
rumah sebagai tempat usaha di pagi sampai sore hari seperti toko kelontong,
bengkel las ataupun jasa reparasi lain.
atau saya ada cara lain lagi yang lebih mudah, anda bisa menyewakan rumah tinggal anda kemudian menyewa kembali rumah tinggal dengan harga yang lebih murah dari nilai sewa rumah anda untuk mendapatkan selisih lebih arus kas masuk ke kantong anda.
Jika anda bisa melakukan hal tadi dan hasilna
sudah melebihi biaya renovasi, listrik, air dan biaya bulanan lain maka rumah
tinggal anda sudah bisa di katakan sebagai ASET
sebab sudah menghasilkan uang ke kantong anda.
